Tulisan pada tema berikut bukan untuk memberikan tips atau trik, tapi hanya sekedar menceritakan pengalaman saja. Mungkin dari pengalaman ini bisa sedikit banyak diambil makna nya.
Ketika lulus sekolah menegah kejuruan, kita yang tidak mampu ataupun memang tidak mau meneruskan pendidikan kebangku kuliah, maka otomatis menjadi seorang pekerja lah tujuan berikutnya.
Menjadi pekerja yang baru lulus sekolah tentu saja menjadikan pengalaman yang baru dan mendebarkan, dimana kita masih harus beradaptasi dengan lingkungan pekerjaan dan tata cara pelaksanaan kerja tersebut.
Untuk anak yang baru mulai kerja, tentu pekerjaan yang diberikan masih harus dibimbing dan diarahkan oleh senior-senior nya, Sehingga anak baru teersebut hanya bekerja pada arahan nya saja, tanpa perkembangan yang signifikan , tanpa memperlihatakan ide dan kualitas pada anak tersebut, sehingga apa yang akan terjadi nantinya? sudah pasti, akan menjadi sebuah kebiasaan, dan disini yang menjadi sangat membahayakan adalah anak tersebut akan sulit untuk mendapatkan kesempatan kerja pada posisi yang di idamkannya.
Ada yang bilang, keinginan itu beda dengan keahlian, jadi kalau sekedar ingin tapi tidak ahli, maka dia tidak pantas untuk hal itu. Pepatah tersebut sangat bertentangan dengan pola pikir saya, bagaimana seseorang bisa menjadi ahli kalau tidak dimulai dari nol? untuk bisa memulai sesuatu hal, seseorang harus punya keinginan terlebih dahulu. Keinginan adalah sebuah ungkapan rasa antusias dengan harapan pada orang tersebut, apabila diberikan KESEMPATAN, saya pribadi yakin dan percaya hal itu akan mendatangan sebuah keahlian yang positif, bukan keahlian yang dipaksakan.
Namun sangat disayangkan, zaman sekarang dalam dunia kerja tidak ada lagi yang namanya kesempatan.. Nah, bagi yang baru lulus sekolah dan sekarang ingin melanjutkan nya ke hal pekerjaan, pilihlah pekerjaan yang memang dari awal diminati, jangan sampai waktu terbuang sia-sia untuk pekerjaan lain yang dimana kamu berfikir dan menunggu dengan harap - harap cemas akan mendapatkan KESEMPATAN itu.
by. Staff fincon yg ingin terjun kedunia market
My experience of existence
Hal-Hal yang Saya dapat dari pengamatan dan pengalaman sendiri.
Selasa, 15 Maret 2016
Rabu, 29 Oktober 2014
Lemah Pendidikan = Standar Pekerjaan yang Rendah
Mencoba dan mencoba terus dalam mencari pekerjaan yang kita inginkan dan harapkan. Berbagai cara, dari mendatangi tempat tersebut atau mengirimkan CV melalui jasa expedisi dan kemudian berharap-harap cemas akan mendapat pangilan Psikotest/Interviuw. Namun siapa sangkah, pengharapan tinggi disertai semangat menjulang hanya akan gugur ketika pihak perusahaan mengetahui data pribadi melalui jenjang pendidikan saja.
Seberapa pun pengalaman kerja mu pada perusahaan lain, segesit dan seulet apapun pribadi etos kerja mu, hanya akan dianggap bualan, karena dengan bukti jenjang pendidikan yang hanya sebatas SMK/SMA sudah menjadi bukti kuat untuk mendiskualifikasi calon karyawan/karyawati tersebut.
Saya tidak bisa menyalahkan standar calon karyawan yang diinginkan oleh setiap perusahaan. Tentu saja mereka berharap dengan minimal pernah menngecap bangku perkuliahan saja pasti sudah menjamin kualitas skill dalam menangani proses pekerjaan pada perusahaan tersebut.
Namun ada rasa kecewa untuk definisi hal tersebut, karena seorang pekerja yang hanya lulusan SMK/SMA yang sampai berani mengirimkan lamaran pekerjaan pada perusahaan bonafit pun harus ada pertimbangan dari pihak perusahaan tersebut, kenapa? karena sudah pasti adanya jaminan skill orang tersebut cukup dan mumpunin dalam menempati posisi tersebut.
Bagi Saya pribadi, pengalaman adalah hal paling penting dalam memberikan nilai pada seorang pelamar kerja. Kalau pun pendidikan nya ada yang sampai sarjana, namun minim pengalaman, bisa ditebak, pada saat menangani permasalaahn perkerjaan nya, pasti akan kesulitan. Beda hal nya seseorang yang misalkan pun hanya lulusan SMK/SMA, namun sudah pernah bekerja lama pada beberapa perusahaan yang lain, sudah pasti orang tersebut akan sanggup menyelesaikan kesulitan pekerjaannya. Hanya perlu sedikit pengarahan, otomatis orang tersebut sudah tahu apa yang mesti dia lakukan.
Namun sayang, seribu sayang, standar kualifikasi calon karyawan/karyawati begitu susah di penuhin oleh seorang lulusan SMK/SMA saja, walaupun pengalaman dan etos kerja nya sangat diperlukan oleh perusahaan bonafit tersebut. Ibarat Pungguk merindukan bulan, bulan nya tidak tahu kalau sebenarnya pungguk tersebut punya sesuatu yang baik terhadapnya.
Seberapa pun pengalaman kerja mu pada perusahaan lain, segesit dan seulet apapun pribadi etos kerja mu, hanya akan dianggap bualan, karena dengan bukti jenjang pendidikan yang hanya sebatas SMK/SMA sudah menjadi bukti kuat untuk mendiskualifikasi calon karyawan/karyawati tersebut.
Saya tidak bisa menyalahkan standar calon karyawan yang diinginkan oleh setiap perusahaan. Tentu saja mereka berharap dengan minimal pernah menngecap bangku perkuliahan saja pasti sudah menjamin kualitas skill dalam menangani proses pekerjaan pada perusahaan tersebut.
Namun ada rasa kecewa untuk definisi hal tersebut, karena seorang pekerja yang hanya lulusan SMK/SMA yang sampai berani mengirimkan lamaran pekerjaan pada perusahaan bonafit pun harus ada pertimbangan dari pihak perusahaan tersebut, kenapa? karena sudah pasti adanya jaminan skill orang tersebut cukup dan mumpunin dalam menempati posisi tersebut.
Bagi Saya pribadi, pengalaman adalah hal paling penting dalam memberikan nilai pada seorang pelamar kerja. Kalau pun pendidikan nya ada yang sampai sarjana, namun minim pengalaman, bisa ditebak, pada saat menangani permasalaahn perkerjaan nya, pasti akan kesulitan. Beda hal nya seseorang yang misalkan pun hanya lulusan SMK/SMA, namun sudah pernah bekerja lama pada beberapa perusahaan yang lain, sudah pasti orang tersebut akan sanggup menyelesaikan kesulitan pekerjaannya. Hanya perlu sedikit pengarahan, otomatis orang tersebut sudah tahu apa yang mesti dia lakukan.
Namun sayang, seribu sayang, standar kualifikasi calon karyawan/karyawati begitu susah di penuhin oleh seorang lulusan SMK/SMA saja, walaupun pengalaman dan etos kerja nya sangat diperlukan oleh perusahaan bonafit tersebut. Ibarat Pungguk merindukan bulan, bulan nya tidak tahu kalau sebenarnya pungguk tersebut punya sesuatu yang baik terhadapnya.
Selasa, 21 Oktober 2014
TRUE LOVE ?
Cinta digambarkan orang-orang berupa bentuk hati merah utuh. Cinta sendiri memiliki banyak artian yang meluas. Khusus untuk manusia dewasa, mereka akan mengatakan cinta itu adalah menemukan sesosok manusia yang mampu membuatnya bahagia.
Ketika seorang manusia dewasa telah menemukan perasaan tersebut, maka selanjutnya mereka akan memulai menyatukan perasaan itu dengan pasangannya melalui sebuah ikatan pernikahan. Seiring dengan berjalannya waktu, segala keadaan dan tantangan cinta tersebut mampu dilalui oleh kedua belah pihak (suami dan istri), tapi ketika waktu telah lama berlalu, perasaan cinta itu perlahan memudar, dari pertama cinta yang membara, menjadi sebuah kasih sayang, kemudian rasa pertemanan, dan terakhir perasaan biasa-biasa saja.
Ada beberapa kasus kejadian untuk masalah tersebut, manusia itu akan memilih berpisah dengan pasangannya ketika dia menemukan kembali cinta membara dengan orang lain. Ada juga yang memilih untuk bertahan, karena alasan tidak ada artinya juga apabila berpisah dengan pasangannya.
Di sini Saya pribadi menjadi ragu dengan pernyataan cinta sejati tersebut. Untuk sebuah panutan pun Saya sendiri belum pernah menemukan yang namanya cinta sejati, apalagi pengalaman pribadi (tentu saja. karena Saya sendiri masih muda dan belum tua ^.^ ) . Orang tua pun telah berpisah secara lahiriah diusia perkawinan mereka yang baru beberapa puluh tahun (anak-anak nya masih remaja), Beliau meninggal di pelukan Bunda. Untuk Kakek-Nenek pun berbeda kasus, Nenek ku sendiri menikah dengan kakek yang pada saat itu berstatus Duda, meskipun mereka sampai akhir hayat hidup tetap bersama, tapi ketika penguburan nya saja di pisah tempat nya, karena keinginan anak tiri nya. Maksud Saya disini, Kakek pada saat itu sudah pernah jatuh cinta dengan nenek istri pertama nya, namun istri nya tersebut telanjur meninggal juga.
Ironis memang, pada pengalaman nyata mengenai yang namanya cinta sejati sepasang manusia dewasa. Ditambah lagi pernyataan orang lain yang mengatakan cinta dapat di peroleh meskipun itu sudah merupakan kesempatan kedua? Apakah yang namanya cinta sejati itu bisa terjadi berulang-ulang selama hidup manusia ? Cinta sejati bagi Saya hanya bisa ditonton di televisi atau pun dibaca di novel-novel dewasa.....
Semoga suata saat saya bisa menemukan bantahan lain mengenai cinta sejati itu sendiri.
Ketika seorang manusia dewasa telah menemukan perasaan tersebut, maka selanjutnya mereka akan memulai menyatukan perasaan itu dengan pasangannya melalui sebuah ikatan pernikahan. Seiring dengan berjalannya waktu, segala keadaan dan tantangan cinta tersebut mampu dilalui oleh kedua belah pihak (suami dan istri), tapi ketika waktu telah lama berlalu, perasaan cinta itu perlahan memudar, dari pertama cinta yang membara, menjadi sebuah kasih sayang, kemudian rasa pertemanan, dan terakhir perasaan biasa-biasa saja.
Ada beberapa kasus kejadian untuk masalah tersebut, manusia itu akan memilih berpisah dengan pasangannya ketika dia menemukan kembali cinta membara dengan orang lain. Ada juga yang memilih untuk bertahan, karena alasan tidak ada artinya juga apabila berpisah dengan pasangannya.
Di sini Saya pribadi menjadi ragu dengan pernyataan cinta sejati tersebut. Untuk sebuah panutan pun Saya sendiri belum pernah menemukan yang namanya cinta sejati, apalagi pengalaman pribadi (tentu saja. karena Saya sendiri masih muda dan belum tua ^.^ ) . Orang tua pun telah berpisah secara lahiriah diusia perkawinan mereka yang baru beberapa puluh tahun (anak-anak nya masih remaja), Beliau meninggal di pelukan Bunda. Untuk Kakek-Nenek pun berbeda kasus, Nenek ku sendiri menikah dengan kakek yang pada saat itu berstatus Duda, meskipun mereka sampai akhir hayat hidup tetap bersama, tapi ketika penguburan nya saja di pisah tempat nya, karena keinginan anak tiri nya. Maksud Saya disini, Kakek pada saat itu sudah pernah jatuh cinta dengan nenek istri pertama nya, namun istri nya tersebut telanjur meninggal juga.
Ironis memang, pada pengalaman nyata mengenai yang namanya cinta sejati sepasang manusia dewasa. Ditambah lagi pernyataan orang lain yang mengatakan cinta dapat di peroleh meskipun itu sudah merupakan kesempatan kedua? Apakah yang namanya cinta sejati itu bisa terjadi berulang-ulang selama hidup manusia ? Cinta sejati bagi Saya hanya bisa ditonton di televisi atau pun dibaca di novel-novel dewasa.....
Semoga suata saat saya bisa menemukan bantahan lain mengenai cinta sejati itu sendiri.
(Teruntuk: H.H)
Senin, 15 September 2014
My experience of existence: Perusahaan Bisa dikatakan Bobrok, Salah Satunya Ka...
My experience of existence: Perusahaan Bisa dikatakan Bobrok, Salah Satunya Ka...: Kalau kita membaca lowongan kerja pada perusahaan-perusahaan besar dan ternama, pasti kita dapat melihat ada kriteria khusus dalam mengkuali...
Minggu, 14 September 2014
Perusahaan Bisa dikatakan Bobrok, Salah Satunya Karena Serampangan Menerima Karyawan Baru
Kalau kita membaca lowongan kerja pada perusahaan-perusahaan besar dan ternama, pasti kita dapat melihat ada kriteria khusus dalam mengkualifikasi penerimaan calon karyawan baru tersebut. Salah Satu nya pasti jenjang pendidikan kemudian yang tidak kalah penting adalah pengalaman. Disini kita bisa menilai bahwa pendidikan penting tapi pengalaman lebih penting lagi, pelajaran yang kita dapat kan ketika SMK kejuruan atapun kuliah hanya akan di praktekkan dasar-dasar nya saja dalam perusahaan, karena Setiap perusahaan memilki konsep pembukuan yang berbeda-beda, meskipun tetap dasar-dasar administrasinya sama.
Disini HRD ataupun atasan nya lagsung harus jeli dalam mengambil pekerja. Sekarang Saya contoh kan ada perusahaan yang karena kesulitan mendapatkan karyawan yang awet bekerja, dan juga untuk menghemat budget pengeluaran gaji karyawan, HRD/Atasan nya tersebut hanya memberikan persyaratan umum seperti jenjang pendidikan hanya SMA/SMK dan non-pengalaman ataupun pengalaman tidak masalah, kemudian setelah interviuw dan dilihat penampilan nya kalem, maka besok sudah bisa langsung kerja, atau bahkan hari itu juga sudah boleh masuk kerja! See?! setelah beberapa lama kerja, maka akan di beri kan tanggung jawab yang tidak mampu ataupun dipaksa kan ke karyawan baru tersebut, dengan iming-iming gaji naik dan adanya gelar jabatan. Perusahaan tersebut juga tidak menghargai karyawan yang sudah berkerja lama dan memiliki integritas bagus dalam membantu memajukan perusahaan tersebut, malah posisi karyawan senior ini akan di setarakan dengan karyawan junior nya. Disini kalau si junior memang layak dan memiliki integritas yang sama bagusnya dengan si senior, tentu saja di perbolehkan diberikan posisi yang sama, tapi kebanyakan tidak mungkin karyawan baru bisa langsung bisa menyesuaikan konsep pengoperasiaan suatu perusahaan yang dia tempati.
Lalu apa akibat nya kalau HRD/Atasan tersebut menerapkan sistem standar karyawan baru yang mudah dan enteng ini? Perusahaan tersebut akan kehilangan karyawan senior nya yang sudah sangat mengenal dan memberikan jasa kepada perusahaan tersebut, tinggal lah si junior mendadak mengantikan si senior yang sudah resign. Lalu tidak lama , perusahaan akan kembali ke awal konsep pengoperasiaan perusahaan yang dulu nya sudah maju dan bagus di kelola oleh si senior resign tersebut, bahkan pembukuan mereka makin lama makin kacau dan tidak terkonsep dengan baik.
Salah satu kriteria bagi kita si pencari kerja, harus lah teliti dalam mencari perusahaan yang benar-benar bisa menghargai ke totalitasan pengabdian kita. Bila di perusahaan tersebut memiliki karyawan senior yang sudah lama bekerja, dan bekerja nya juga sangat bagus, maka kita tidak perlu ragu lagi untuk mencap perusahaan tersebut adalah perusahaan yang bagus dan suatu hari nanti akan berkembang dengan pesat.
Disini HRD ataupun atasan nya lagsung harus jeli dalam mengambil pekerja. Sekarang Saya contoh kan ada perusahaan yang karena kesulitan mendapatkan karyawan yang awet bekerja, dan juga untuk menghemat budget pengeluaran gaji karyawan, HRD/Atasan nya tersebut hanya memberikan persyaratan umum seperti jenjang pendidikan hanya SMA/SMK dan non-pengalaman ataupun pengalaman tidak masalah, kemudian setelah interviuw dan dilihat penampilan nya kalem, maka besok sudah bisa langsung kerja, atau bahkan hari itu juga sudah boleh masuk kerja! See?! setelah beberapa lama kerja, maka akan di beri kan tanggung jawab yang tidak mampu ataupun dipaksa kan ke karyawan baru tersebut, dengan iming-iming gaji naik dan adanya gelar jabatan. Perusahaan tersebut juga tidak menghargai karyawan yang sudah berkerja lama dan memiliki integritas bagus dalam membantu memajukan perusahaan tersebut, malah posisi karyawan senior ini akan di setarakan dengan karyawan junior nya. Disini kalau si junior memang layak dan memiliki integritas yang sama bagusnya dengan si senior, tentu saja di perbolehkan diberikan posisi yang sama, tapi kebanyakan tidak mungkin karyawan baru bisa langsung bisa menyesuaikan konsep pengoperasiaan suatu perusahaan yang dia tempati.
Lalu apa akibat nya kalau HRD/Atasan tersebut menerapkan sistem standar karyawan baru yang mudah dan enteng ini? Perusahaan tersebut akan kehilangan karyawan senior nya yang sudah sangat mengenal dan memberikan jasa kepada perusahaan tersebut, tinggal lah si junior mendadak mengantikan si senior yang sudah resign. Lalu tidak lama , perusahaan akan kembali ke awal konsep pengoperasiaan perusahaan yang dulu nya sudah maju dan bagus di kelola oleh si senior resign tersebut, bahkan pembukuan mereka makin lama makin kacau dan tidak terkonsep dengan baik.
Salah satu kriteria bagi kita si pencari kerja, harus lah teliti dalam mencari perusahaan yang benar-benar bisa menghargai ke totalitasan pengabdian kita. Bila di perusahaan tersebut memiliki karyawan senior yang sudah lama bekerja, dan bekerja nya juga sangat bagus, maka kita tidak perlu ragu lagi untuk mencap perusahaan tersebut adalah perusahaan yang bagus dan suatu hari nanti akan berkembang dengan pesat.
Kamis, 04 September 2014
Picture Of You, My Mom
Orang Tua adalah gambaran dan cerminan pribadi seorang anak.
Ketika seorang anak telah dewasa dan lepas dari orang tua, seorang anak sudah tidak akan sedekat dulu ketika masih bersama-sama dengan orang tua nya. Apalagi anak tersebut lepas karena urusan pekerjaan di kota/negara lain, target dan fokus nya hanya akan pada karir saja. Hal ini terkadang memicu terjadinya rasa asing akan kedekatan antara anak dan orang tua tersebut. Disini seorang anak harus bisa berpikir lebih dewasa, terkadang orang tua akan membuat sebuah sikap yang egois yang akan membuat si anak menjadi menghindar dikarenakan ke fokusan dalam karir tersebut. Seorang anak harus dituntut lebih sadar akan keinginan orang tua tersebut.
Saya secara pribadi sering kali menelaah akan kedua pribadi ini, pribadi seorang anak dan orang tua nya. Saya yang seorang anak mencoba untuk memahami akan sebuah ke ego nya orang tua, tanpa menyakiti atau pun menghindari beliau, tapi Saya akan mencoba membicarakan semua nya, segala sesuatu yang menjanggal dan menggangu rasa nyaman Saya, akan Saya diskusikan kepadanya. Biasa nya seorang anak yang sudah lepas dari orang tua nya akan lebih banyak menyimpan semua cerita dan aktifitas nya, seorang anak enggan membicarakan apapun pada orang tua nya, ada yang beralasan karena tidak mau membebankan atau membuat cemas orang tua tersebut.
Bagi Saya, boleh-boleh saja tidak membicarakan sesuatu hal yang menurut pribadi itu memang belum saat nya orang tua tahu, tapi hanya sebatas itu, karena untuk hal lain nya kita tetap harus membicarakan segala hal pada beliau, agar mereka bisa menekan sedikit ego nya dan manfaat itu yang bisa kita rasakan nantinya. Kita tetap bisa fokus akan karir dan kehidupan kita diluar dari pengawasan orang tua tanpa kuatir ataupun sampai menghindari orang tua kita sendiri ketika beliau mencoba untuk mencereweti akan hal ini dan itu, maka kita harus tetap sering membicarakan apapun hal tentang kita, dalam cara penyampaian yang baik dan benar.
Setiap manusia pasti memiliki rasa dan pikiran yang egois, mau di kalangan apapun, seorang anak,orang tua,sahabat,teman,atasan,karyawan dll. Tidak ada yang bisa meghindari ke egoisan itu, bahkan orang tua terhadap anak nya sekalipun, tinggal sekarang bagaimana cara kita menyingkapinya agar tetap menjalani hidup ini tanpa beban, ingat masalah itu pasti ada, mau itu dari diri kita ataupun dari orang lain terhadap kita, makanyan setidak nya kita mengurangi masalah itu dengan tidak membuat masalah sendiri. Cintai orang tua tanpa mengorbankan kebebasan dan kenyamanan diri kita sendiri, Mereka tetap lah orang tua yang pada dasarnya sangat mencintai anak nya sendiri.
Ketika seorang anak telah dewasa dan lepas dari orang tua, seorang anak sudah tidak akan sedekat dulu ketika masih bersama-sama dengan orang tua nya. Apalagi anak tersebut lepas karena urusan pekerjaan di kota/negara lain, target dan fokus nya hanya akan pada karir saja. Hal ini terkadang memicu terjadinya rasa asing akan kedekatan antara anak dan orang tua tersebut. Disini seorang anak harus bisa berpikir lebih dewasa, terkadang orang tua akan membuat sebuah sikap yang egois yang akan membuat si anak menjadi menghindar dikarenakan ke fokusan dalam karir tersebut. Seorang anak harus dituntut lebih sadar akan keinginan orang tua tersebut.
Saya secara pribadi sering kali menelaah akan kedua pribadi ini, pribadi seorang anak dan orang tua nya. Saya yang seorang anak mencoba untuk memahami akan sebuah ke ego nya orang tua, tanpa menyakiti atau pun menghindari beliau, tapi Saya akan mencoba membicarakan semua nya, segala sesuatu yang menjanggal dan menggangu rasa nyaman Saya, akan Saya diskusikan kepadanya. Biasa nya seorang anak yang sudah lepas dari orang tua nya akan lebih banyak menyimpan semua cerita dan aktifitas nya, seorang anak enggan membicarakan apapun pada orang tua nya, ada yang beralasan karena tidak mau membebankan atau membuat cemas orang tua tersebut.
Bagi Saya, boleh-boleh saja tidak membicarakan sesuatu hal yang menurut pribadi itu memang belum saat nya orang tua tahu, tapi hanya sebatas itu, karena untuk hal lain nya kita tetap harus membicarakan segala hal pada beliau, agar mereka bisa menekan sedikit ego nya dan manfaat itu yang bisa kita rasakan nantinya. Kita tetap bisa fokus akan karir dan kehidupan kita diluar dari pengawasan orang tua tanpa kuatir ataupun sampai menghindari orang tua kita sendiri ketika beliau mencoba untuk mencereweti akan hal ini dan itu, maka kita harus tetap sering membicarakan apapun hal tentang kita, dalam cara penyampaian yang baik dan benar.
Setiap manusia pasti memiliki rasa dan pikiran yang egois, mau di kalangan apapun, seorang anak,orang tua,sahabat,teman,atasan,karyawan dll. Tidak ada yang bisa meghindari ke egoisan itu, bahkan orang tua terhadap anak nya sekalipun, tinggal sekarang bagaimana cara kita menyingkapinya agar tetap menjalani hidup ini tanpa beban, ingat masalah itu pasti ada, mau itu dari diri kita ataupun dari orang lain terhadap kita, makanyan setidak nya kita mengurangi masalah itu dengan tidak membuat masalah sendiri. Cintai orang tua tanpa mengorbankan kebebasan dan kenyamanan diri kita sendiri, Mereka tetap lah orang tua yang pada dasarnya sangat mencintai anak nya sendiri.
Jumat, 29 Agustus 2014
Sensitive Feeling it is ...
Banyak penjelasan dan pengertian dari arti dari sebuah kata kesensitifan perasaan/hati manusia, tapi secara pribadi tentu ada penjelasan nya sendiri.
Ketika seseorang menyakitan diri lainnya, secara sengaja atau tidak tetap saja itu sudah terjadi. Dari pengalaman dan analisi sifat manusia, Saya pribadi sangat heran dengan manusia dewasa sekarang, hal sesederhana dalam bersikap saja tidak mampu di lakukan oleh setiap manusia.
Menyakiti orang lain tidak perlu lah ada pengecualian sengaja atau tidak sengaja, karena menurut Saya, selama manusia memakai otak nya dalam bertindak tanpa memakai perasaan/hati maka ada kesengajaan dalam setiap tindakannya yang sudah secara langsung menyakiti orang lain.
Saling menyakiti sudah makanan sehari-hari dewasa ini, bahkan seorang teman atau sahabat sekalipun. Sesuatu yang sangat sederhana seperti menjaga tindakan dan omongan saja sangat maha sulit dilakukan oleh manusia sekarang. Contoh kecil dan sederhana dari pengalaman pribadi, Seorang teman kantor dengan sengaja mengambil ahli kuasa dan tindakan dari pekerjaan orang lain, yang seharunya bukan lah urusan atau tanggung jawab teman kantor tersebut. Coba sekarang kita menghilangkan masalah ke profesionalan dalam pekerjaan tersebut, kalau kita lihat dari segi menolong, Saya rasa pertolongan tersebut hanyalah hiasan untuk menutupi sikap serakah dan seenak nya dalam hak dan tanggung jawab orang lain itu, dan lagi dengan sikap nya teman kantor tersebut, hanya akan membuat orang lain itu akan di pandang rendah oleh yang lainnya, dan beranggapan tidak becus dalam mengurus tanggung jawab nya sendiri. Apakah tindakan teman kantor tersebut di benarkan? yang ada, yang terlihat hanyalah penyakitan persaan orang lain itu sendiri, orang itu yang adalah teman serekan nya dalam kantor. Dan jelas sekali kalau dalam hal keprofesionalan itu sendiri teman kantor tersebut sudah melangar SOP/ tanggung jawab masing-masing setiap pekerja, dalam hal kasus ini, orang lain tersebut masih aktif dikantor, bukanya sedang cuti atau pun tidak ada di kantor.
Tidak ada yang menuntut untuk menjadi pribadi yang sempurna dengan hati seluas samudra dan lain-lain, tapi cukup dengan setiap tindakan yang dilakukan harus diimbangi dengan pikiran dan juga perasaan.
Ketika seseorang menyakitan diri lainnya, secara sengaja atau tidak tetap saja itu sudah terjadi. Dari pengalaman dan analisi sifat manusia, Saya pribadi sangat heran dengan manusia dewasa sekarang, hal sesederhana dalam bersikap saja tidak mampu di lakukan oleh setiap manusia.
Menyakiti orang lain tidak perlu lah ada pengecualian sengaja atau tidak sengaja, karena menurut Saya, selama manusia memakai otak nya dalam bertindak tanpa memakai perasaan/hati maka ada kesengajaan dalam setiap tindakannya yang sudah secara langsung menyakiti orang lain.
Saling menyakiti sudah makanan sehari-hari dewasa ini, bahkan seorang teman atau sahabat sekalipun. Sesuatu yang sangat sederhana seperti menjaga tindakan dan omongan saja sangat maha sulit dilakukan oleh manusia sekarang. Contoh kecil dan sederhana dari pengalaman pribadi, Seorang teman kantor dengan sengaja mengambil ahli kuasa dan tindakan dari pekerjaan orang lain, yang seharunya bukan lah urusan atau tanggung jawab teman kantor tersebut. Coba sekarang kita menghilangkan masalah ke profesionalan dalam pekerjaan tersebut, kalau kita lihat dari segi menolong, Saya rasa pertolongan tersebut hanyalah hiasan untuk menutupi sikap serakah dan seenak nya dalam hak dan tanggung jawab orang lain itu, dan lagi dengan sikap nya teman kantor tersebut, hanya akan membuat orang lain itu akan di pandang rendah oleh yang lainnya, dan beranggapan tidak becus dalam mengurus tanggung jawab nya sendiri. Apakah tindakan teman kantor tersebut di benarkan? yang ada, yang terlihat hanyalah penyakitan persaan orang lain itu sendiri, orang itu yang adalah teman serekan nya dalam kantor. Dan jelas sekali kalau dalam hal keprofesionalan itu sendiri teman kantor tersebut sudah melangar SOP/ tanggung jawab masing-masing setiap pekerja, dalam hal kasus ini, orang lain tersebut masih aktif dikantor, bukanya sedang cuti atau pun tidak ada di kantor.
Tidak ada yang menuntut untuk menjadi pribadi yang sempurna dengan hati seluas samudra dan lain-lain, tapi cukup dengan setiap tindakan yang dilakukan harus diimbangi dengan pikiran dan juga perasaan.
Langganan:
Komentar (Atom)